Senin, 26 Maret 2018

Perawatan Mesin Industri Yang Terencana Dan Tidak Terencana Serta Jenis Dan Teknik Pelumasan

Tugas Softskill Tentang Perawatan Mesin Di Industri






Disusun Oleh :

`      Nama       :   Ahmad Junaedi
       NPM        :   20415343
       Kelas        :   3IC08         









I.       Pesan Perawatan dan Perbaikan Mesin dalam suatu  
          Industri:
           A. Perawatan dan Perbaikan Mesin
Pengertian perawatan ( maintenance ) itu sendiri dapat diartikan sebagai kegiatan untuk memelihara atau menjaga fasilitas atau peralatan pabrik dan mengadakan kegiatan pemeliharaan, perbaikan penyesuaian, maupun penggantian sebagian peralatan yang diperlukan agar sarana fasilitas pada kondisi yang diharapkan dan selalu dalam kondisi siap pakai. Berikut tujuan perawatan dan perbaikan mesin adalah:
1. Memperpanjang usia kegunaan aset. Hal ini terutama penting di negara berkembang karena kurangnya sumber daya modal untuk penggantian Menjamin keselamatan orang yang menggunakan sarana tersebut.
2. Menghemat waktu, biaya dan material karena peralatan terhindar dari kerusakan besar.
3. Kerugian baik material maupun personel akibat kerusakan dapat dihindari sedini mungkin, karena terjadinya kerusakan da atau timbulnya kerusakan tambahan akibat kerusakan awal dapat segera dicegah.

B. Peran Perawatan dan Perbaikan dalam Sistem Kesiapan Fasilitas
1.Merubah proses
2.Merancang kembali komponen yang gagal
3.Mengganti dengan komponen baru atau yang lebih baik
4.Meningkatkan prosedur perawatan preventif. Sebagai contoh, melakukan
pelumasan   sesuai ketentuannya atau mengatur kembali frekuensi dan isi daripada pekerjaan inspeksi
 5. Meninjau kembali dan merubah sistem pengoperasian mesin. Misalnya dengan merubah beban unit, atau melatih operator dengan sistem operasi yang lebih baik, terutama pada unit-unit khusus.
Tujuan utama perawatan:
1. Untuk memperpanjang umur penggunaan asset.
2. Untuk menjamin ketersediaan optimum peralatan yang dipasang untuk produksi dan dapat diperoleh laba yang maksimum.
3. Untuk menjamin kesiapan operasional dari seluruh peralatan yang diperlukan dalam keadaan darurat setiap waktu.
4. Untuk menjamin keselamatan orang yang menggunakan peralatan tersebut.
II.      Klasifikasi dan Jenis Perawatan:
          A. Perawatan yang direncanakan
Perencanaan didefinisikan sebagai proses pemilihan informasi dan pembuatan asumsi mengenai kondisi masa datang, guna mengembangkan seluruh lintasan kegiatan. Pengertian perencanaan perawatan adalah suatu kombinasi dari setiap tindakan yang dilakukan untuk menjaga sistem/equipment dalam proses perawatannya sampai kondisi dapat diterima. Perencanaan perawatan mengikutsertakan pengembangan dari seluruh lintasan kegiatan yang mencakup semua kegiatan perawatan, reparasi, dan pekerjaan overhaul.
Faktor penunjang keberhasilan perencanaan perawatan akan terkait dengan:
Ø  Ruang lingkup pekerjaan.
Ø  Lokasi pekerjaan.
Ø  Prioritas pekerjaan.
Ø  Metode
Ø  Kebutuhan komponen dan material.
Ø  Kebutuhan peralatan
Ø  Kebutuhan tenaga kerja baik secara kualitas dari skill maupun kuantitasnya.
Kendala yang mungkin muncul dalam perencanaan perawatan dapat disebabkan berbagai aspek seperti komunikasi ketidakjelasan instruksi, kurangnya informasi maupun berbagai kelambatan, dan ketidakpastian spare parts atau tenaga kerja terampil.
            B. Perawatan yang tidak direncanakan
Breakdown maintenance atau yang biasa disebut perawatan yang tidak direncanakan merupakan perbaikan yang dilakukan pada suatu unit yang terhenti operasinya akibat kerusakan pada alat tersebut. Pada dasarnya breakdown maintenance sangat tidak diinginkan, karena akan mengganggu proses produksi. Oleh karena itu preventive maintenance dan predictive maintenance perlu untuk dioptimalkan.Adapun pengantar ISO sebagai berikut:
ISO 9001 adalah standar internasional yang diakui untuk sertifikasi Sistem Manajemen Mutu (SMM). SMM menyediakan kerangka kerja bagi perusahaan anda dan seperangkat prinsip-prinsip dasar dengan pendekatan manajemen secara nyata dalam aktifitas rutin perusahaan untuk terciptanya konsistensi mencapai kepuasan pelanggan.
Beberapa aspek-aspek penting dalam perencanaan perawatan adalah:
1) Perencanaan
Perencanaan adalah kegiatan untuk menjalankan fungsi
1. Aspek-Aspek Penting Dalam Perawatan Terencana
perawatan yang dilakukan secara terorganisir. Perencanaan perawatan terdiri dari:
• Penyusunan secara struktural kegiatan perawatan yang akan dijalankan
• Penyusunan sistem perawatan
• Kegiatan pengontrolan dan pencatatan
• Penerapan sistem perawatan dan pencatatan
Sedangkan faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam penyusunan perencanaan perawatan adalah ruang lingkup pekerjaan, prioritas pekerjaan, kebutuhan ketrampilan, kebutuhan tenaga kerja, kebutuhan peralatan dan kebutuhan material.
2) Pemeriksaan
Kegiatan pemeriksaan yang telah tersusun dengan teratur akan menjaga performa mesin dalam keadaaan optimal dan dapat berfungsi sesuai standar. Kegiatan pemeriksaan terdiri dari:
• Pemeriksaan operasional
• Pemeriksaan pemberhentian
• Pemeriksaan overhaul.
3) Pemilihan komponen/ suku cadang
Pemilihan komponen atau suku cadang merupakan kegiatan yang paling penting dalam menjalankan kegiatan overhaul. Dengan pemilihan suku cadang yang sesuai dengan spesifikasi mesin akan menjaga mesin tetap dapat bekerja dalam kondisi standar.

2. Perawatan Pencegahan (Preventive Maintenance)
Perawatan pencegahan (preventive maintenance) adalah kegiatan pemeliharaan dan perawatan yang dilakukan untuk mencegah timbulnya kerusakan-kerusakan yang tidak terduga dan menemukan kondisi atau keadaan yang dapat menyebabkan peralatan produksi mengalami kerusakan pada waktu digunakan dalam proses produksi (Sofyan, 1998: 90). Dalam melakukan cara perawatan ini, ada beberapa aktifitas yang dapat dilakukan yaitu: pemeriksaan secara berkala dan penggantian komponen yang sudah hampir rusak atau sudah rusak. Untuk penggantian komponen yang telah rusak ini akan terjadi penambahan pada biaya produksinya. Sehingga dalam menetapkan komponen-komponen yang akan dijadwalkan penggantiannya harus merupakan komponen yang kritis dalam sistem produksi tersebut.
Berdasarkan Asrori (2007: 3) kegiatan perawatan yang dilakukan dalam perawatan preventif adalah suatu bentuk pelaksanaan terjadual. Oleh karena itu siklus perawatan menjadi penting keberadaannya. Klasifikasi perawatan mesin dalam preventive maintenance dibagi menjadi 4 kategori (keadaan), yaitu:
(1) Inspeksi (I)
Inspeksi adalah tindakan pengecekan atau pemeriksaan secara berkala kondisi suatu peralatan atau alat bantu untuk mendapatkan informasi tentang keadaan mesin atau alat bantu tersebut yang hasilnya dapat digunakan untuk pertimbangan dalam melakukan kegiatan perawatan selanjutnya.
(2) Small Repair (S)
Small repair adalah suatu tindakan perawatan ringan yang menitik beratkan pada bagian terkecil (komponen) dari suatu mesin. Kegiatan small repair merupakan perbaikan tindak lanjut dari kerusakan ringan yang ditemukan pada waktu kegiatan inspeksi dan tidak memerlukan waktu dan biaya yang tinggi.
(3) Medium Repair (M)
Medium repair adalah suatu tindakan perawatan tingkat menengah yang lebih fokus pada kerusakan bagian dari suatu mesin akibat aus atau akibat kecelakaan yang perbaikannya memerlukan biaya yang tinggi dan waktu kerja yang relatif lama.
(4) Overhaul (O)
Overhaul adalah suatu tindakan perawatan pada yang bersifat menyeluruh pada bagian mesin. Tindakan yang biasanya dilakukan waktu overhaul adalah pembetulan-pembetulan komponen yang aus/ rusak atau penggantian komponen.

3. Perawatan Korektif (Corrective Maintenance)
Menurut Sofyan (1987: 90) perawatan korektif (corrective maintenance) adalah kegiatan pemeliharaan dan perawatan yang dilakukan setelah terjadi kerusakan atau kelainan pada fasilitas atau peralatan yang ditemukan selama masa waktu preventive maintenance.
Dalam perbaikan dapat dilakukan peningkatan-peningkatan sedemikian rupa, seperti melakukan perubahan atau modifikasi rancangan agar peralatan menjadi lebih baik dan mencapai standar kerja yang dapat diterima.
Perawatan korektif yang dilakukan meliputi antara lain:
a. Perbaikan-perbaikan yang dilakukan untuk menghilangkan bagian-bagian yang kurang ekonomis dari mesin atau mengurangi frekuensi terjadinya kerusakan tersebut
b. Melakukan perbaikan setelah jangka waktu tertentu
Beberapa jenis perawatan korektif adalah:
1) Shutdown Maintenance
Shutdown maintenance adalah pemeliharaan yang hanya dilakukan selama
mesin tersebut berhenti beroperasi atau mesin tersebut terpaksa diberhentikan karena kerusakan yang serius.
2) Breakdown maintenance
Pekerjaan perawatan dilakukan setelah terjadi kerusakan pada peralatan,
dan untuk memperbaikinya harus disiapkan suku cadang, material, alat-alat
dan tenaga kerjanya.
III.    Jenis Pelumas dan Teknik Pelumasan:
          A. Jenis Pelumas
       1. Hydraulic oil ( Pelumas Hidrolik, berbahan dasar minyak mineral, sintetik dan water  glycol )
       2. Compressor Oil ( Pelumas Kompressor Udara, berbahan dasar minyak mineral dan  sintetik )
       3. Industrial Gear dan Oil ( Pelumas Roda Gigi, berbahan dasar minyak mineral dan sintetik )
       4. Automotive Gear dan Oil (Pelumas Roda Gigi Untuk Kendaraan, berbahan dasar minyak                     mineral dan sintetik)
       5. Diesel Engine Oil ( Pelumas Mesin Diesel, berbahan dasar minyak mineral dan sintetik )

            B. Sifat Pelumas
1. Indeks kekentalan.
Kekentalan minyak pelumas itu berubah-ubah menurut perubahan temperatur. Dengan sendirinya minyak pelumas yang baik tidak terlalu peka terhadap perubahan temperatur, sehingga dapat berfungsi sebagaimana mestinya, baik dalam keadaan dingin maupun dalam keadaan panas (temperatur kerja). Untuk mengukur perubahan kekentalan tersebut dipakai indeks kekentalan yang diperoleh dengan cara mencatat perubahan kekentalan bila pelumas didinginkan dari 210o F sampai 100o F.
2. Titik tuang.
Pada temperatur tertentu (titik tuang), minyak pelumas akan membentuk jaringan kristal yang menyebabkan minyak itu sukar mengalir. Karena itu sebaiknya dipergunakan minyak pelumas dengan titik tuang yang serendah-rendahnya untuk menjamin bahwa minyak pelumas akan mengalir denagn lancar.
3. Stabilitas.
Beberapa minyak pelumas pada temperatur tinggi akan berubah susunan kimianya sehingga terjadilah endapan yang mengakibatkan cincin torak melekat pada alurnya. Selain itu endapan minyak pelumas tersebut dapat menyumbat saluran sirkulasi minyak tersebut.

4. Kelumasan.
Minyak pelumas harus memiliki kelumasan yang cukup baik, yaitu dapat membasahi permukaan logam. Hal ini berarti dalam segal keadaan selalu terdapat lapisan minyak pelumas pada permukaan bagian mesin yang bersentuhan.
            C. Bahan Aditif Pelumas
1. Aditif Anti-Keausan (Anti-Wear)
Aditif anti keausan berfungsi untuk mencegah kontak metal-to-metal antara komponen mesin pada saat lapisan film lubrikasi rusak. Dengan menggunakan aditif ini akan didapatkan umur mesin yang lebih panjang karena nilai ketahanan aus yang meningkat. Cara kerja aditif ini adalah dengan jalan bereaksi dengan sebagian kecil molekul metal di permukaan komponen untuk membentuk lapisan film yang dapat bergeser dalam permukaan gesek.
2. Aditif Extreme-Pressure
Zat aditif extreme pressure (EP) memiliki fungsi yang mirip dengan aditif anti-keausan, yaitu untuk mencegah terjadinya kontak metal-to-metal namun diutamakan pada saat kondisi tekanan tinggi. Mekanismenya adalah dengan jalan membentuk lapisan film dari reaksi antara zat aditif dengan molekul permukaan komponen mesin. Lapisan film ini bersifat sangat kuat dan tidak mudah rusak pada beban kerja tinggi, sehingga kontak metal-to-metal dapat selalu dih
3. Anti-Korosi
Aditif dengan fungsi untuk menghambat terjadinya korosi di permukaan komponen ini, dilakukan dengan jalan membentuk lapisan film khusus pada permukaan logam komponen. Lapisan film tersebut juga aktif melindungi komponen dari serangan oksigen (oksidasi), air, serta zat kimia aktif lainnya. Material dengan kemampuan aditif tersebut antara lain adalah senyawa alkalin, asam organik, ester, serta turunan asam amino.
4. Anti-Oksidan
Oli mineral dapat bereaksi dengan oksigen dalam udara dan membentuk asam organik. Produk dari reaksi oksidasi tersebut meningkatkan viskositas oli, membentuk endapan dan vernis (varnish), memicu korosi, serta busa. Anti-oksidan bertugas untuk menghambat terjadinya oksidasi oli. Material-material yang dapat dijadikan sebagai anti-oksidan antara lain adalah zinc dithiophosphate, alkyl sulfides, aromatic sulfides, aromatic amines, dan hindered phenols.
            D. Sistem Pelumasan Mesin
1. Jenis percik ( splash type)
Pada jenis ini stang seher dilengkapi dengan sendok yang berada pada ujung bagian bawah dari stang seher . Sehingga saat  mesin berputar, maka sendok pemercik akan memercikan oli yang di bak oli ke dinding silinder dan bearing. Jenis ini memiliki konstruksi yang sangat sederhana , namun sulit untuk melumasi bagian - bagian yang memiliki celah lebih sempit . Karena itu sistem pelumasan tipe ini sudah tidak lagi digunakan.

2. Jenis tekanan ( pressure feed type )
Pada jenis ini sistem pelumasan menggunakan pompa oli yang berguna untuk mensirkulasikan minyak pelumas.  Jenis inilah yang sekarang digunakan pada kendaraan baik mobil ataupun sepeda motor.
Adapun pompa oli yang digunakan ada bermacam - macam yaitu :
·                     model roda gigi ( gear type )
·                     model trocoid 
Mengenai sistem pelumasan tipe ini akan saya bahas tersendiri dalam postingan saya berikutnya.

3. Jenis kombinasi
Pada sistem pelumas tipe ini adalah penggabungan dari sistem pelumas tipe 1 dan tipe 2 .

DAFTAR PUSAKA 

https://timbulstg.blogspot.co.id/2014/01/tribologi-pelumasan.html



Minggu, 07 Januari 2018

rangkuman jurnal

Abstrak

Adanya keinginan untuk meningkatkan hasil proses pemesinan. Berdasarkan uji penelitian, terlihat tingkat kekasaran relatif tinggi dan kebulatan yang kurang baik. Terdapat beberapa cara yang dilakukan untuk mengatasi hal ini, baik dengan mengencangkan pengikat benda kerja dengan baik, menambahkan kapasitas peredam mesin, mengencangkan baut pengikat pada mesin, dan dapat pula dengan menyeimbangkan putaran benda kerja sebelum dilakukan pemotongan. Mesin bubut konvensional bekerja bekerja secara manual tanpa perangkat digital atau  komputerisasi pada mesin tersebut. Oleh sebab itu, pada penelitian ini dilakukan percobaan pada mesin bubut konvensional dan melihat sejauh mana hasil proses pemesinan yang dapat dicapai. Proses pemotongan dilakukan dengan pahat bubut HSS dengan benda kerja alumunium IADS 1060. Dari hasil percobaan yang dilakukan menunjukkan adanya kekasaran permukaan dan deviasi kesilindrisan relatif tinggi.


KATA PENGANTAR

            Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, penulis telah diberikan nikmat sehat wal’afiat untuk dapat menyelesaikan tugas untuk membuat Jurnal PEMBUBUTAN yang merupakan tugas dari praktik Proses Manufaktur.
           
            Tak lupa penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam penulisan makalah ini. Terutama kepada pihak teman-teman satu kelompok yang telah bekerja bersama-sama untuk menyelesaikan Jurnal PEMBUBUTAN, serta penulis ucapkan terima kasih kepada para assisten laboratorium Proses Manufaktur yang telah memberikan bimbingannya.
           

            Akhir kata penulis mohon maaf atas kekurangan dan kesalahan dalam penulisan Jurnal ini. Karena tidak ada karya manusia yang sempurna. Begitu pula dengan Jurnal PEMBUBUTAN ini. Oleh sebab itu, penulis menerima kritik dan saran yang bersifat membangun.

PEMBUBUTAN 

Operasi Pada Bubut

Operasi pada mesin bubut ada beraneka ragam antara lain :

•Pembubutan
•Pengeboran
•Pengerjaan tepi
•Penguliran
•Pembubutan tirus
•Penggurdian
•Meluaskan lubang
a.Pembubutan Silindris
A. Pahat mata tunggal dalam operasi pembubutan
B.Memotong tepi.
b.Pengerjaan Tepi (Facing)
Pengerjaan tepi adalah apabila permukaan harus dipotong pada pembubut. Benda kerja biasanya dipegang pada plat muka atau dalam pencekam seperti gambar 2B. Tetapi bisa juga pengerjaan tepi dilakukan dengan benda kerja diantara kedua pusatnya. Karena pemotongan tegak lurus terhadap sumbu putaran maka kereta luncur harus dikunci pada bangku pembubut untuk mencegah gerakan aksial.
c.Pembubutan Tirus
Terdapat beberapa standar ketirusan1 dalam praktek komersial. Penggolongan berikut yang umum digunakan :
1.Tirus Morse, banyak digunakan untuk tangkai gurdi, leher, dan pusat pembubut.  Ketirusannya adalah 0,0502 mm/mm (5,02%).
2.Tirus Brown dan Sharp, terutama digunakan dalam memfris spindel mesin : 0,0417 mm/mm (4,166%).
3.Tirus Jarno dan Reed, digunakan oleh beberapa pabrik pembubut dan perlengkapan penggurdi kecil. Semua sistem mempunyai ketirusan 0.05 mm/mm (5,000%),tetapi diameternya berbeda.
4.Pena tirus.
Digunakan sebagai pengunci. Ketirusannya 0,0208 mm/mm (2,083%).

d.Memotong Ulir
Biasanya pembuatan ulir dengan mesin bubut dilakukan apabila hanya sedikit ulir yang harus dibuat atau dibuat bentuk khusus. Bentuk ulir didapatkan dengan menggerinda pahat menjadi bentuk yang sesuai dengan menggunakan gage atau plat pola. Gambar 7. memperlihatkan sebuah pahat untuk memotong ulir -V 60 derjat dan gage yang digunakan untuk memeriksa sudut pahat.


Gage ini disebut gage senter sebab juga bisa digunakan sebagai gage penyenter mesin bubut. Pemotong berbentuk khusus bisa juga digunakan untuk memotong ulir.

Mesin Bubut

1.     Pengertian Mesin Bubut
Mesin bubut merupakan salah satu jenis mesin perkakas. Prinsip kerja pada proses turning atau lebih dikenal dengan proses bubut adalah proses penghilangan bagian dari benda kerja untuk memperoleh bentuk tertentu. Di sini benda kerja akan diputar/rotasi dengan kecepatan tertentu bersamaan dengan dilakukannya proses pemakanan oleh pahat yang digerakkan secara translasi sejajar dengan sumbu putar dari benda kerja. Gerakan putar dari benda kerja disebut gerak potong relatif dan gerakkan translasi dari pahat disebut gerak umpan (feeding).


2. Komponen Utama Mesin Bubut
Mesin bubut pada dasarnya terdiri dari beberapa komponen utama antara lain: meja mesin, a headstock, a tailstock, a compound slide, across slide, a toolpost, dan leadscrew dan lain-lain. Pada gambar 2.2 berikut ini diperlihatkan nama-nama bagian atau komponen yang umum dari mesin bubut:

Tailstock untuk memegang atau menyangga benda kerja pada bagian ujung yang berseberangan dengan Chuck (pencekam) pada proses pemesinan di mesin bubut.


Lead crew adalah poros panjang berulir yang terletak agak dibawah dan sejajar dengan bangku, memanjang dari kepala tetap sampai ekor tetap. Dihubungkan dengan roda gigi pada kepala tetap dan putarannya bisa dibalik. Dipasang ke pembawa (carriage) dan digunakan sebagai ulir pengarah untuk membuat ulir saja dan bisa dilepas kalau tidak dipakai.

Feedrod terletak dibawah ulir pengarah yang berfungsi untuk menyalurkan daya dari kotak pengubah cepat (quick change box) untuk menggerakkan mekanisme apron dalam arah melintang atau memanjang.
Carriage terdiri dari tempat eretan, dudukan pahat dan apron. Konstruksinya kuat karena harus menyangga dan mengarahkan pahat pemotong. Dilengkapi dengan dua cross slide untuk mengarahkan pahat dalam arah melintang. Spindle yang atas mengendalikan gerakan dudukan pahat dan spindle atas untuk menggerakkan pembawa sepanjang landasan.

Toolpost digunakan sebagai tempat dudukan pahat bubut, dengan menggunakan pemegang pahat.
Headstock , yaitu tempat terletaknya transmisi gerak pada mesin bubut yang mengatur putaran yang dibutuhkan pada proses pembubutan.

3. Dimensi dan Jenis-Jenis Mesin Bubut
Dimensi atau ukuran mesin bubut biasanya dinyatakan dalam diameter benda kerja yang dapat dikerjakan pada mesin tersebut. misalnya sebuah mesin bubut ukuran 400 mm mempunyai arti mesin bisa mengerjakan benda kerja sampai diameter 400 mm. Ukuran kedua yang diperlukan dari sebuah mesin bubut adalah panjang benda kerja. Beberapa pabrik menyatakan dalam panjang maksimum benda kerja diantara kedua pusat mesin bubut, sedangkan sebagian pabrik lain menyatakan dalam panjang bangku.
5
Ada beberapa variasi dalam jenis mesin bubut dan variasi dalam desainnya tersebut tergantung cara pengoparasiannya dan jenis produksi atau jenis benda kerja.
Dilihat cara pengoperasian mesin bubut dibagi menjadi dua jenis yaitu mesin bubut manual dan mesin bubut otomatis. Mesin bubut manual adalah mesin bubut yang proses pengoperasiannya secara manual dilakukan oleh manusia secara langsung, sedangkan mesin bubut atomatis adalah mesin bubut yang perkakasnya secara otomatis memotong benda kerja dan mundur setelah proses diselesaikan, dimana semua pegerakan sudah diatur atau diprogram secara otomatis dengan mengunakan komputer. Mesin bubut yang otomatis sepenuhnya dilengkapi dengan tool magazine sehingga sejumlah alat potong dapat diletakan dimesin secara berurutan dengan hanya sedikit pengawasan dari operator. Mesin bubut otomatis ini lebih dikenal dengan sebutan CNC (Computer Numerical Control) Lathe Machine ( mesin bubut dengan sistem komputer kontrol numerik), seperti pada gambar berikut:
Jenis Mesin Bubut;
a. Mesin bubut manual, b. Mesin bubut CNC

ABSTRAK
 Paving block adalah salah satu bagian dari bahan bangunan yang banyak digunakan sebagai bahan perkerasan baik untuk jalan, trotoar maupun lahan parkir. Namu dipasaran mutu paving blok yang ada sangat rendah, sehingga cepat retak dan patah. Hal ini dikarenakan berbagai faktor antara lain komposisi campuran bahan dan proses pembuatan yang kurang tepat. Untuk mengatasi hal tersebut agar menghasilkan paving blok bermutu sesuai standar SNI 03 0691 1996 maka diperlukan mesin pembuat paving blok dengan proses pengepresan menggunakan sistem hidroulik. tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan desain dan alat pembuat paving block yang dapat digunakan membuat paving blok memenuhi syarat standar SNI 03 0691 1996 untuk perkerasan lahan parkir dengan tekanan pengepresan maksimal. Metode yang digunakan adalah metode eksperimental untuk menganalisa kekuatan cetakan paving block, menghitung gaya saat penekanan pada cetakan, menghitung tegangan lentur yang diizinkan serta yang terjadi dan melakukan pengujian kuat tekan paving block yang dilakukan dilaboratorium kampus 2 fakultas teknik universitas muhammadiyah metro. Adapun hasil penelitian pada cetakan paving block dan pengujian kuat tekan paving yaitu dari hasil analisa kekuatan cetakan terhadap pengaruh tekanan di dapat gaya pada variasi 2 cetakan sebesar 58663,8 N, variasi 3 cetakan 81619,2 N, dan variasi 4 cetakan 113501,7 N. Untuk tegangan lentur yang diizinkan di dapat nilai sebesar 30247500N/m2. Untuk tegangan lentur yang terjadi didapat untuk variasi 2 cetakan sebesar 1629550 N/m2 untuk panjang plat, sedangkan untuk lebar sebesar 2444325 N/m2, untuk variasi 3 cetakan sebesar 2040480 N/m2 untuk panjang plat, sedangkan untuk lebar sebesar 2720640 N/m2, untuk variasi 4 cetakan sebesar 1891695 N/m2 untuk panjang plat, sedangkan untuk lebar sebesar 3783390 N/m2. Dari hasil pengujian kuat tekan paving block didapatkan nilai rata-rata perbandingan untuk setiap variasi cetakan didapat 8,375 MPa untuk variasi 2 cetakan, 7,525 MPa untuk variasi 3 cetakan dan 5,1041667 MPa untuk variasi 4 cetakan. Bila melihat hasil rata-rata pada grafik diatas sesuai SNI nilai yang didapat utuk paving block pada variasi 2 cetakan termasuk dalam mutu untuk taman.
 Kata Kunci : Analisa Cetakan, Paving Block, Kuat Tekan, Standar SNI.
I.                   PENDAHULUAN
            Paving block adalah salah satu bagian dari bahan bangunan yang banyak digunakan sebagai bahan perkerasan baik untuk jalan, trotoar maupun lahan parkir. Perkerasan kaku paving blok ini dengan menggunakan campuran beton bertulang atau mengunakan balok beton terkunci. Beberapa kenyataan yang ada dipasaran, mutu paving blok yang ada cepat retak dan patah karena paving blok bersifat getas. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh mutu bahan yang tidak memenuhi syarat, komposisi bahan yang tidak memenuhi standart, gerusan air hujan, beban-beban kejut akibat lintasan roda
kendaraan.
            Untuk mengatasi masalah tersebut, perlu dibuat sebuah mesin produksi paving block yang bisa menghasilkan paving dengan standart yang sama dalam hal proses penekanannya. Untuk memperkecil biaya produksi, rancangan mesin press tersebut tidak harus menggunakan bahan-bahan terbaik, tetapi lebih dititik tekankan pada hasil penekanan (pengepresan) yang bisa menghasilkan paving block dengan mutu yang bisa memenuhi standart SNI 03 0691 1996.  Dari penjelelasan diatas maka penulis bermaksud untuk menganalisa sistem pengepresan dengan menggunakan sistem hidroulik pada alat pembuat paving blok yang nantinya dapat digunakan sebagai perkerasan lahan parkir.
  PEMBAHASAN
Gaya yang didapat pada cetakan paving block untuk variasi 2 cetakan sebesar 58663,8 N, variasi 3 cetakan 81619,2 N, dan variasi 4 cetakan 113501,7 N. Sehingga pada saat penekanan terjadi lenturan yang diakibatkan dari gaya penekanan pada saat pembuatan paving block. Adapun tegangan lentur yang terjadi pada saat penekanan didapat untuk variasi 2 cetakan sebesar 1629550 N/m2 untuk panjang plat sedangkan untuk lebar sebesar 2444325 N/m2, untuk variasi 3 cetakan sebesar 2040480 N/m2 untuk panjang plat sedangkan untuk lebar sebesar 2720640 N/m2, untuk variasi 4 cetakan sebesar 1891695 N/m2 untuk panjang plat sedangkan untuk lebar sebesar 3783390 N/m2. Untuk kekuatan uji tekan didapat untuk variasi 2 cetakan didapat nilai rata-rata pengujian 1 sebesar 8,375 MPa, pengujian 2 sebesar 8,625 MPa, dan pengujian 3 sebesar 8,125 MPa. Untuk variasi 3 cetakan didapat nilai rata-rata pengujian 1 sebesar 7,75 Mpa.
KESIMPULAN
Dari penelitian yang telah dilakukan didapat kesimpulan sebagai berikut :
1.    Dari hasil analisa sistem hidrolik pada pembuatan atau pengepresan paving block di dapat nilai 15 kg/cm2 dengan gaya penekana yang terjadi pada hidrolik sebesar 11551,275 N dan gaya penekanan saat pembuatan atau pengeresan paving block sebesar 29430 N serta 13 kg/cm2 dengan gaya penekana yang terjadi pada hidrolik sebesar 10011,105 N dan gaya penekanan saat pembuatan atau pengeresan paving block sebesar 25506 N dan dalam nilai rata-rata tekanan
2.    Dengan hasil pengujian kuat tekan pada paving block di dapat nilai rata-rata 8,3125 Mpa, karena hanya didapat nilai tersebut maka dikuat tekan paving block ini tidak termasuk kesemua mutu SNI dan kuat tekan tercapai minimal.
MESIN BOR

                                                 Mesin Bor Tekan dan Mata Bor
1. Macam – macam Mesin Bor
Bor diguakan untuk membuat lubang dengan jalan memutar sekaligus menekan masuk kedalam benda kerja.
Macam – macam mesin bor diantaranya :
Bor bangku / meja
Bor Kolom
Bor Radial
Bor Dada
Bor Pistol
2. Fungsi dan bagian bor
a. Mesin bor bangku / meja
Mesin bor dipasang diatas meja mempunyai penyangga pendek atau penekanan bor dengan tuas dan juga dengan tangan cocok pekerjaan yang tidak tinggi dengan lubang terkecil hingga 13 mm.
b. Mesin bor kolom
Mesin ini mempunyai sebuah kolom silindris mesin ini dipasang tetap diatas lantai untuk pekerjaan yang lebih besar dari pada kemampuan bor meja.
c. Mesin bor radial
Mesin ini mempunyai kolom yang lebih besar dari pada bor kolom, ditempatkan disuatu lengan dengan suatu eretan bor, lengan menampang eretan bor ini dapat diputar radial, sedangkan eretan ban dapat digeser sepanjnag lengan.
d. Mesin bor dada / berpistol
Suatu jenis yang mudah dibawa – bawa (portable) mesin bor pistol yang mata bor dipasang pada ujungnya.
Untuk memutar bor dan bor pistol diperlukan tenaga listrik, pada mesin bor dada permutaran bor dilakukan dengan memutar tuas, pemutar tuas, pemutar menggunakan tangan secara prinsip suatu mesin bor mempunyai bagian – bagian yaitu :
Penjepit bor
Sumbu pemutar chuck maupun penggerak / pemutar
Baik elektrik maupun manual (dengan tangan)
3. Macam – macam mata bor
Mata bor dibagi dalam beberapa macam seperti :
Berpilin / spiral bor senter, bor pembenam (Counter drill)
Bor persing (counter sink) dan bor peluas (reamer)

Kamis, 02 November 2017

Flowchart Metodologi Penelitian Tempat Makan Berbahan Dasar Plastik

Flowchart Metodologi Penitian 

·         Penelitian Pendahuluan
Pada tahap ini, penulis melakukan penelitian mengenai topik yang dibahas melalui wawancara dan pengamatan.
·         Studi Pustaka
Mengumpulkan materi, data dan informasi dari buku, jurnal dan artikel yang berkaitan dengan masalah yang dibahas, serta teori-teori yang memperkuat pemahaman terhadap permasalahan.
·         Perumusan Masalah
Berdasarkan penelitian pendahuluan yang dilakukan, penulis menyimpulkan masalah yang akan dianalisa dalam penulisan makalah ini.
·         Pembatasan Masalah
Dari masalah yang dirumuskan pada tahap sebelumnya, penulis memberikan batasan materi-materi yang akan dianalisa.
·         Analisis Data
Pada tahap ini, penulis menganalisis data-data yang diterima dari hasil studi pustaka.
·         Kesimpulan dan Saran
Merumuskan kesimpulan dan saran yang diambil dari keseluruhan proses penelitian yang telah dilakukan untuk menjawab topik permasalahan yang diangkat.
Suatu penelitian selalu berkaitan dengan data dan sampel. Data yang diperoleh menjadi bahan untuk penelitian lebih lanjut. Data merupakan bentuk jamak dari “datum” yang terdiri dari kumpulan fakta-fakta sebagai hasil pengukuran atau pengamatan berupa angka, kata-kata, dan lain sebagainya. Berdasarkan sumbernya, data terdiri dari dua, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer merupakan sumber data yang diperoleh langsung dari sumber asli (tidak melalui media perantara). Data primer dapat berupa opini subjek (orang) secara individual atau kelompok, hasil observasi terhadap suatu benda (fisik), kejadian atau kegiatan, dan hasil pengujian. Metode yang digunakan untuk mendapatkan data primer yaitu metode survei dan metode observasi. Data sekunder merupakan sumber data yang sudah tersedia sehingga kita tinggal mencari dan mengumpulkan. Jika data sekunder dapat kita peroleh dengan lebih mudah dan cepat karena sudah tersedia, misalnya di perpustakaan, perusahaan-perusahaan, organisasi-organisasi perdagangan, biro pusat statistik, dan kantor-kantor pemerintah, maka data primer harus secara langsung kita ambil dari sumber aslinya, melalui narasumber yang tepat dan yang kita jadikan responden dalam penelitian kita. Data yang diambil hanya beberapa dalam suatu penelitian yang biasa kita sebut sampel. Sampel merupakan bagian dari populasi yang ingin diteliti, dipandang sebagai suatu pendugaan terhadap populasi, namun bukan populasi itu sendiri. Sampel dianggap sebagai perwakilan dari populasi yang hasilnya mewakili keseluruhan gejala yang diamati. Ukuran dan keragaman sampel menjadi penentu baik tidaknya sampel yang diambil. Terdapat dua cara pengambilan sampel, yaitu secara acak (random) atau probabilitas dan tidak acak (non-random) atau non-probabilitas. Populasi adalah sekumpulan data dalam jumlah cukup besar yang mempunyai karakteristik yang sama.
      Data yang diambil mengenai penulisan ilmiah tentang analisis varians adalah data primer yang sifatnya kuantitatif berupa banyaknya tempat makan berbahan dasar plastik yang diproduksi ke berbagai wilayah pendistribusian. Teknik sampling yang digunakan adalah secara acak (random). Data tersebut digunakan untuk menentukan ada tidaknya pengaruh dari kelima ukuran tempat makan dan wilayah pendistribusian terhadap hasil penjualan. Ukuran tempat makan yang diproduksi adalah mini, small, medium, large dan very large. Wilayah pendistribusian produk diantaranya adalah Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, Depok dan Cikarang. Berkaitan dengan hal tersebut, data yang diambil dari 20 sampel merupakan hasil penjualan produk perusahaan selama satu bulan terakhir. Berikut ini adalah data yang diperoleh.